Penetapan Potensi Antibiotik

PERHATIAN
Kemungkinan besar yang masuk ke artikel ini adalah praktikan yang akan membuat laporan. Saya tidak menyetujui penggunaan artikel blog sebagai referensi laporan apalagi tugas akhir. Jadi, saya harap tidak ada yang menuliskan artikel ini sebagai referensi laporan apalagi tugas akhir. Anggap saja ini adalah informasi yang diberikan oleh asisten hanya saja dalam bentuk tertulis dan dapat diakses secara online.

Pertama kali belajar penetapan potensi antibiotik itu waktu praktikum mikrobiologi 5 tahun lalu. Kedua, 3 tahun lalu di Analisis Senyawa Aktif juga di praktikum mikrobiologi tapi dengan posisi sebagai asisten bukan praktikan. Hampir saja harus belajar lagi saat ujian apoteker kemarin dapet soalnya Suspensi ampisilin yang diusulkan menjadi Suspensi ampisilin trihidrat. Yah, untungnya masuk lab formulasi dan bukan lab pengujian mutu :D. Walau sebenarnya kalau masuk pengujian mutu juga seneng banget.. secara.. rumah sendiri hehehehehe. Yang terbaru, akhirnya dua minggu ini harus menghadapi modul praktikum yang sama dan tentunya sebagai asisten. Yang membingungkan dari modul ini tentu saja bagian perhitungannya. Karena mulai tahun ini saya bertekad semua praktikan yang saya bimbing dapat mengerti materi yang dipraktikumkan maka untuk modul ini, saya pun mulai belajar kembali mengenai perhitungan potensi antibiotik yang sesuai dengan kompendia.

Mulailah saya buka Farmakope Indonesia, bagian Penetapan Potensi Antibiotik secara Mikrobiologi <131>, di sana diperoleh kondisi-kondisi yang dibutuhkan dalam melakukan penetapan potensi antibiotik. Dalam modul praktikum, yang ditetapkan adalah ampisilin maka penelusuranpun dilakukan hanya pada ampisilin. Prosedur penetapan yang dilakukan adalah prosedur 5+1 artinya digunakan 5 aras dosis baku dan 1 aras dosis sampel. Keseluruhan prosedur yang dilakukan di praktikum sudah sesuai dengan yang dilakukan pada praktikum ya walau dengan sedikit penyesuaian.

Pada bagian cara perhitungan tertulis perhitungan dilakukan seperti yang tertera pada Potensi hasil interpolasi dari kurva baku seperti yang tertera pada Desain dan Analisis Penetapan Hayati <81> dengan metode garis lurus transformasi log (baca penjelasan di bawah) dengan prosedur penyesuain kuadrat terkecil (kuadrat terkecil sih metode penentuan koefisien regresi linier) dan uji linieritas (ini mungkin artinya dibuat regresinya... hehehe). Yuk, kita liat bagian <81> itu.. Oooo, TIDAAAAKKKKK... saya tidak mengerti apa-apa.. Semuanya adalah rumus tapi tidak ada satupun rumus yang saya tahu penggunaannya..... :(( :(( :((

Menyerah tidak mengerti di FI, buka slide kuliah aja dehhh... hehehehe... Akhirnya saya buat menjadi 15 langkah dengan berbagai penyesuaian.. hehehehe...
  1. Kumpulkan data pengamatan diameter hambatan pada semua seri
  2. Ubah satuan diameter menjadi mm x 10. Contoh: 2,45 cm = 245 (mmx10)
  3. Hitung diameter R atau S3 pada semua seri standar. Nah, pada bagian inilah saya kebingungan karena pada slide kuliah hanya ditulis semua seri, tidak jelas apakah seri uji diikutkan atau tidak. Setelah saya lihat-lihat.. tampaknya hanya pada seri standar saja, karena tujuan perhitungan ini adalah koreksi pada standar yang akan dibuat menjadi kurva baku sehingga hanya pada 36 diameter R saja bukan 45.
  4. Hitung diameter R pada masing-masing seri
  5. Hitung diameter S pada masing-masing seri
  6. Hitung diameter S yang dikoreksi --> jadinya a, b, c, d, e
  7. Hitung diameter terendah (YL) dan diameter tertinggi (YH)
  8. Buat kurva baku hanya dengan menggunakan 2 titik lohhh... Jadi pasti hasilnya garis lurus dengan koefisien korelasi = 1. Titik pertama adalah (log konsentrasi terkecil, YL), titik kedua adalah (log konsentrasi tertinggi, YH). Saya sarankan jangan menggunakan kertas semilog (penjelasan lebih lanjut baca di bawah), lalu cari persamaan garis kurva baku.
  9. Hitung diameter rata-rata R pada seri uji
  10. Hitung diameter rata-rata U pada seri uji
  11. Interpolasikan atau subtitusikan log S3 ke garis atau persamaan garis kurva baku --> untuk memperoleh nilai Ys.
  12. Hitung diameter U yang dikoreksi --> Yu
  13. Interpolasikan atau subtitusikan Yu ke kurva baku atau persamaan gari kurva baku. Diperolehlah Log U.
  14. Hitung Dosis U dengan (log U/log S3) x Dosis S3
  15. Hitung Potensi U dengan (dosis U/dosis R) x potensi standar


Beberapa hal mengenai perhitungan di atas:
Mengapa harus mengkonversi diameter menjadi mmx10?
Hmm, saya rasa supaya perhitungan lebih mudah, tidak menggunakan desimal yang terlalu banyak. Selain itu, desimal kan menunjukkan ketelitian, mungkin menghilangkan desimal tersebut menunjukkan bahwa ketelitian yang digunakan tidaklah tinggi karena dalam pengukuran biologis terdapat banyak galat.

Mengapa rumus mencari YL dan YH seperti itu?
Lihatlah di Farmakope Indonesia, memang seperti itu rumusnya..

Mengapa kurva baku hanya dibuat dari 2 titik? Asisten menyuruh membuat dengan 5 titik dan dibuat persamaan regresinya..
Sebenarnya setelah saya coba, menggunakan 2 titik dan dengan 5 titik akan dihasilkan persamaan garis dan persamaan garis regresi yang sama. Penggunaan 2 titik itu merupakan perhitungan yang direkomendasikan oleh Farmakope Indonesia. Apakah tidak aneh ada instruksi menghitung YL(YR) dan YH(YT) tapi data tersebut tidak digunakan...

Apa itu kertas semilog?
Kertas semilog adalah kertas semacam milimeter block, hanya saja pada salah satu sumbunya skala yang digunakan adalah skala logaritma bukan skala aritmatika seperti pada milimeter block biasa. Untuk contohnya bisa lihat gambar di bawah ini (semilog 1 siklus) dengan skala logaritma pada sumbu Y nya. 1 siklus berarti pada sumbu Y nya adalah untuk 1 siklus logartima.


Bagaimana cara menggunakan kertas semilog?
Sebenarnya sama saja dengan milimeter block. Hanya saja, tidak diperlukan proses melogaritmakan parameter yang digunakan dalam skala log. Misalnya pada hal ini adalah konsentrasi. Nilai konsentrasi tidak perlu dilogaritmakan terlebih dahulu, langsung saja nilainya dimasukan ke dalam skala. Contoh kertas di atas adalah kertas semilog 1 siklus. Itu berarti dari garis tebal yang di bawah sampai garis tebal yang di atas adalah 1 siklus log. Dalam 1 siklus log hanya boleh ada nilai dengan nilai logaritma 1 siklus. Contohnya... Jika data konsentrasi yang digunakan adalah 2 dan 6 maka hanya dibutuhkan 1 siklus saja. Jika data yang digunakan adalah 2, 6, dan 18 dibutuhkan 2 siklus. Kok bisa? Karena jika angka-angka tersebut dilogaritmakan akan menjadi 0,301; 0,778; 1,256. Nilai 0,301 dan 0,778 masih berada di bawah 1, tapi 1,256 ada di atas 1.

Mengapa tidak disarankan menggunakan kertas semilog?
Karena kita perlu melakukan interpolasi pada kurva baku. Jika kita membuat kurva baku pada kertas semilog akan menyulitkan kita dalam membaca besaran pada skala logaritmanya (karena tidak sama dengan skala aritmatika). Selain itu, kita perlu data yang akurat yang akan lebih mudah jika kita memiliki persamaan garis (jadi bukan dilakukan interpolasi melainkan subtitusi yang tentunya lebih akurat). Saya pribadi sih belum pernah tau bagaimana cara membuat persamaan garis dari garis yang dibuat di kertas semilog.

Jadi? Di mana membuat kurva bakunya?
Buat saja di kertas dengan skala aritmatika (milimeter block biasa atau di Microsoft Excel). Tapi, ingat logaritmakan terlebih dahulu konsentrasinya.

Apa tidak menyalahi aturan ya? Kan di slide kuliah disuruhnya di kertas semilog?
Hmm, kalau baca pernyataan di FI: "dengan metode garis lurus transformasi log" saya menyimpulkan boleh dilakukan dengan melogaritmakan dulu konsentrasinya hahahahaha... semoga ga sesat ini...

Baiklah.. cape juga nulisnya.. segini aja dulu aaahhh


Pesan sponsor





Artikel Terkait



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

2 comments:

Anonymous said... Reply

mantap juragan!

Asa said... Reply

okok..

Post a Comment

Subscribe to: Post Comments (Atom)