Cara membuang obat dengan aman dan tepat

Sempat terpikirkan bagaimana cara membuang obat dengan aman.. khususnya antibiotik. Saat kuliah apoteker dulu, sempat diadakan semacam diskusi dengan studi kasus mengenai pemberian resep sirup antibiotik. Dalam diskusi itu diulas poin-poin penting apa yang harus disampaikan. Salah satunya adalah pemberitahuan untuk membuang obat tersebut jika obat tersebut masih tersisa setelah 14 hari sirup itu direkonstitusi (direkonstitusi --> awalnya obat berupa serbuk, setelah itu diberi air dengan volume tertentu sehingga menjadi sirup). Nah, tercetuslah dalam otak saya.. :"Bagaimana cara membuangnya?", bukankah antbiotik itu tidak boleh dibuang sembarangan, kalau dibuang sembarangan bisa-bisa membuat bakteri yang terkena antibiotik itu menjadi resisten.

Sayangnya, saya tidak mendapatkan jawaban yang nyambung.. Jawaban dosen saya itu rasanya melantur ke mana gituuuu... Sampe-sampe sekarang aja saya ga inget jawabannya apa. Saat ujian apoteker... dapet soal antibiotik..lagi dan lagi. Hingga saat menjelang sidang, saya teringat pertanyaan itu lagi. Ironis jika saya ditanya saat sidang pertanyaan yang dijawab melantur oleh dosen saya itu.... ckckckckckck... Jadilah saya cari saja sendiri jawabannya di internet..

Akhirnya dipertemukan dengan sebuah website yaitu New York State Department of Environmental Conservation. Web ini menuliskan bagaimana cara membuang obat (general, bukan hanya antibiotik). Berikut yang disarankan oleh NY DEC itu:
  1. Tambahkan pada obat yang akan dibuang (cair atau tablet/pil/semacamnya) dengan air, garam, debu, kotoran, pasir, ampas kopi, atau bahan-bahan yang tidak diinginkan. Kenapa? pencegahan pengambilan obat ini oleh orang (yah mungkin pemulung ya kalau di Indonesia..), anak kecil, hewan, dsb.
  2. Sembunyikan semua obat dalam wadah tertutup, seperti wadah tersegel, kotak atau plastik untuk mencegah pemulungan. Segel dengan kuat.
  3. Buang obat-obat saat trash collection day terdekat untuk mencegah terjadinya kesalahanpenggunaan. Sayangnya itu di NewYork, di Indonesia mah ga ada....
  4. Saran tambahan karena di Indonesia itu suka aja ada orang licik.. Semua obat iru harus dibuang dalam keadaan tidak didalam kemasan obatnya.. Contohnya kalau tablet dalam strip, semua tabletnya harus dikeluarkan dari stripnya..lebih bagus digerus, trus stripnya dirusak, robek-robek kemasan obatnya.. pokoknya lakukan semua yang bisa dilakukan untuk mencegah si oknum licik itu mengambil kesempatan



Halah, ngapain sih repot-repot.. selama ini juga ga ada masalah... Oh ya??? Itu mah ga tau aja kali... Nih akibatnya kalau seenaknya buang obat (terutama yang dibuang lewat saluran air):
  • Obat ditemukan di perairan
    Penelitian United States Geological Survey (USGS) di tahun 1999 dan 2000 menemukan antibiotik, hormon, kontrasepsi, dan steroid di 80% sungai dan aliran sungai yang diuji.. (ya katanya sih dalam konsenrasi rendah...)
  • Mempengaruhi ikan dan kehidupan perairan lainnya
    Penelitian telah membuktikan bahwa ikan jantan telah terbetinakan (bisa memproduksi telur) saat dipaparkan hormom (dari pil pengatur kehamilan). Obat lain seperti antidepresan, beta-bloker, dapat menurunkan fertilitas beberapa oragnisme air. Bahakan obat kadaluwarsa pun masih memberi efek itu.
  • Bakteri yang menjadi resisten
    Pemaparan jangka panjang akan antibiotik konsentrasi rendah dapat mengakibatkan mikroba dan bakteri resisten terhadap antibiotik tersebut.
Baiklah.. yang pasti untuk obat itu tidak boleh dibuang ke saluran air..

Yah, saya kan ga tau... udah terlanjur deh sering buang obat ke saluran air... Nah, ini juga nih yang jadi PR untuk para apoteker di Indonesia... Di web NYDEC itu ada bagian khusus untuk apoteker, veterinarian, dan retailers (kayanya tukang obat nih maksudnya..). Isinya adalah kewajiban para penjual obat tsb. untuk menginformasikan bahwa, obat tidak boleh dibuang ke saluran air..

Caranya? NYDEC menerbitkan sebuah poster yang dapat diunduh.. Poster tersebut harus dipasang di apotek atau di tempat jualan obat itu lah, dengan ukuran yang tidak lebih kecil dari 8.5" x 11" dan harus dipasang di tempat strategis sehingga pasti dilihat oleh pasien (ya bolehlah oleh konsumen, soalnya ada doktrin baru yang bilang kalau yang datang ke apotek itu adalah pasien bukan konsumen..).
Nih posternya,


Coba atuhlah di Indonesia tuh ada yang kaya gini... Kayanya harus deh bikin sendiri ga perlu tunggu Kementrian mana duluan yang mencetuskan perintah cem gini.. Cape.. lama nunggunya...



Artikel Terkait



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 comments:

Post a Comment

Subscribe to: Post Comments (Atom)