Saya Ujian Apoteker 3 kali dan Saya BANGGA

Bangga? Bangga 2 kali tidak lulus??

Tentu saja saya bukan bangga dengan ketidaklulusannya. Tapi saya bangga karena dengan ketidaklulusan itu, saya bisa belajar banyak hal. Mungkin untuk yang lulus 1 putaran saja, ujian apoteker itu pengalaman yang hebat tapi untuk yang lulus setelah gagal 2 kali, tentu saja PENGALAMAN ITU AMAT SANGAT HEBAT SEKALI.

Ujian apoteker yang saya alami itu bukan ujian yang biasa-biasa saja. Ujian ini penuh dengan ketidaktentuan. Mulai dari pengambilan soal secara undian yang penuh dengan ketidakpastian. Yang dapat soal gampang ya gampang, yang dapat soal susah ya nasib. Dalam ujian ini dituntut untuk menjadi staf R&D yang harus membuat obat (dalam bentuk rancangan) dari nol hingga menjadi obat lengkap siap registrasi dalam waktu 2 hari 1 malam saja. Setelah itu dengan berbagai keterbatasan ketidaktahuan dituntut untuk tahu segala macam. Mengutip kata-kata seorang senior tentang ujian apoteker, yang akhirnya tidak merekomendasikan farmasi sebagai jurusan pilihan,
"Ini bukan ujian, ini kaya mau ke medan perang."

2 kali gagal membuat saya DITUNTUT untuk tidak gagal pada kesempatan ketiga. Apakah alasan itu tidak cukup kuat untuk memutuskan keluar dari proyek? Sehingga Anda mentertawakan saya dengan mengatakan pembimbing tesis saya menjadi tidak memperhatikan saya karena saya keluar dari proyek?

2 kali gagal membuat Anda berpendapat bahwa mau ikut tutorial atau tidak pun toh tetap saja gagal? Hal itu menunjukkan Anda menghina program Anda sendiri (ingat jabatan Anda sekarang).

Kepada orang yang dekat dengan orang yang 2 kali gagal dan 1 kali gagal membuat Anda menyumpahi orang itu untuk gagal juga? Apa Anda tidak mempunyai perasaan???
Ya..ya..ya.. Memang Anda langsung lulus saat ujian apoteker. Tidak bisakah Anda menaruh simpati pada orang-orang yang kurang beruntung seperti itu?

Saat kegagalan saya yang pertama saya berusaha kuat. Selain itu saya juga tahu diri melihat jawaban yang kacau balau itu.
Kegagalan saya yang kedua, rasanya untuk didramatisasi saya akan berkata seperti ini:
"I could cry 2 Liter of tears"

Anda memang tidak pernah berpikir rasanya saat tidak lulus. Rekan saya sampai tidak kuasa datang ke kampus sejak dinyatakan tidak lulus. Dia datang ke kampus saat memang ujian berikutnya akan mulai. Bayangkan perasaan saya saat hari ini saya tidak dinyatakan lulus, tapi saya harus tetap ke kampus esok harinya karena saya ada kuliah. Boro-boro saya bisa menenangkan diri dari kehidupan kampus. Bayangkan perasaan saya saat melihat tanda "HARAP TENANG ADA UJIAN APOTEKER" dan saya sudah dieliminasi dari ujian tersebut? Apa perlu Anda mengalami ujian apoteker kembali dan dinyatakan tidak lulus baru Anda bisa berhenti mentertawakan kegagalan saya ini?

Selama ini saya berusaha menerima hinaan Anda itu, dengan pembelaan diri saya yang terbatas. Tapi, hari ini Anda mulai menyumpahi orang lain.. Apa hak Anda?

-dan untuk 1 orang lain, Anda tidak bersekolah di tempat saya. Banyak orang dari sekolah Anda yang ingin bersekolah di tempat saya. Anda masuk blog ini karena Anda mencari sesuatu dan menemukan di blog saya. Berarti hal itu terpikirkan oleh saya dulu baru oleh Anda, apa maksudnya Anda menyebut saya lebih bodoh dari Anda? Apa parameter yang Anda gunakan untuk menilai saya payah, saya lebih bodoh dari Anda? Sebelum Anda menuliskan komentar seperti itu, pikirkan jika posisi Anda itu di posisi saya. Saya tantang Anda untuk mengikuti ujian apoteker seperti yang saya alami. Hahahahah.. untuk melewati ujian masuk ke sekolah saya saja Anda belum tentu bisa.-

Pernah mendengar kalimat ini?
"Ajarkan orang untuk memancing, maka ia dapat makan sepanjang hidupnya.
Berikan dia sepotong ikan, maka ia akan makan satu hari saja."


2 kali gagal membuat saya ingin mengajarkan junior-junior saya untuk "memancing" bukan hanya memberi "sepotong ikan" pada mereka.

Jadi, untuk orang-orang yang telah menjadikan kegagalan saya dalam ujian apoteker sebagai bahan lelucon..harap bayangkan jika Anda yang gagal dalam ujian tersebut dan kegagalan Anda itu dijadikan bahan tertawaan.

Apoteker... selain adalah rekan sejawat juga adalah saudara. Saudara macam apa yang menghina, mentertawakan saudaranya sendiri?


Artikel Terkait



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

6 comments:

muthe said... Reply

grace, serius ada yang begitu? *eh, gw tidak melakukannya kan? maafkan kalau gw melakukannya yak*

bener ada yang menjadikan kegagalan lu lelucon? senior? super senior? sangat gak pantas tuh. dan lu benar saat mengatakan, bahwa yang sekali ujian langsung lulus, gak akan pernah mengerti perasaan mereka yang nggak lulus dan harus mengulang lagi. mereka cuma bisa bersimpati *gw cuma bisa bersimpati, tapi perasaan yg sebenarnya, mungkin hanya akan bisa gw mengerti kalau gw mengalami hal yng sama*.

ngomong2 soal lelucon, kejadian ujian praktikum gw yang mencipratkan larutan dan membuat 1 meja LAF putih semua, terus menerus diceritakan ke junior2 dan sepertinya diceritakan dengan heboh. nggak cukup pada saat ujian ternyata*

Grace said... Reply

@muthe:
Bukan kok Mut.. bukan dirimu..

Iya bener ada yang pake kegagalan gua itu sebagai bahan lelucon.. awalnya sih gua diem aja.. udah lah ngapain diladenin, tapi ternyata beberapa kali tetep aja dia ngomong2 gitu aja.. kan kesel juga. Apalagi itu dia pake acara "ngeledek" junior yang kebetulan deket ama gua, dia bilang ke si junor itu klo dia bakal gagal juga kaya gua.. Ih, kan ga banget.


Yah kalau pun dia ga bisa ngerasain paling ga dia bisa menghargai perasaan orang lain dong. Gua aja yang pernah ga lulus, pas ketemu orang yang ga lulus atau mau nanya dia ga lulusnya knp aku hati-hati ngomongnya.. padahal aku sesama yang ngerasain.

Eh, gua ga denger tuh.. hahaha, berarti penyebarannya masih belum luas :D

Anonymous said... Reply

Gan I mau diskusi sama you?
kl ada waktu tolong kasih kabar y..
ini email I
heru_bgt@yahoo.co.id
thanks y..
salam farmasis..:)

Grace, M.Si., Apt. said... Reply

Pengalaman saya seputar ujian apoteker ada kok di blog ini juga..

saya tulis di sini:
http://rosadora.blogspot.com/search/label/ujian%20apoteker

Hanypujiawati said... Reply

padahal saya baru saja menggebu2 ingin melanjutkan apoteker,,, tapi setelah membaca ini, jadi takut,, apakah memang sesulit itu yah ka? mohon bombingannya yah,,, :(

Grace, M.Si., Apt. said... Reply

Duh saya jadi merasa bersalah dengan menulis hal ini..

Hmm, ga semenakutkan itu kok.. hehehehehhe..

Ujian apoteker itu seperti ujian lainnya, kalau kita mempersiapkan diri dengan baik pasti kita bisa melalui ujian itu dengan baik.

Kenapa saya sampai gagal beberapa kali itu ada faktor kurang dari persiapannya juga kok..

Kenapa akhirnya saya bisa berhasil, itu juga karena saya lebih mempersiapkan diri dengan baik.

Nah, hanya saja kalau dibandingkan dengan ujian lain porsi ujian apoteker memang lebih besar.. Jadi sudah selayaknya perlu usaha yang lebih besar pula.

Tetap semangat... jangan padamkan semangat kamu yang menggebu-gebu itu... Semangat kamu yang menggebu-gebu itu modal awal untuk masuk ke perkuliahan apoteker.

Bacalah cerita saya ini sebagai peringatan agar tidak berleha-leha.. begitu.. hehehehhehe

Sukses ya :D

Post a Comment

Subscribe to: Post Comments (Atom)