Obat Generik Berlogo: Apa itu?

Mungkin istilah "Obat Generik" sudah tidak asing lagi. Tapi mungkin juga hanya tahu namuan tak kenal. Mari kita membahas hal-hal tentang obat generik ini supaya bisa lebih kenal. Kalau tidak kenal maka tidak sayang, supaya sayang mari mengenal.

Mari mengenal istilah-istilah Obat Generik terlebih dahulu...

Obat Generik, Obat Generik Berlogo (OGB), Obat Generik Bermerk?
Untuk saya yang dulu adalah mahasiswa apoteker saja, tiga istilah ini benar-benar menganggu otak saya karena saya saat itu belum menemukan jawaban yang pas.

Akhirnya, saya menemukan juga artinya yang paling dapat saya mengerti :)
Jadi, obat.. dalam perjalanannya menjadi obat melewati serangkaian penelitian, di kala penelitian itu beres, obatpun didaftarkan dan dipatenkan lalu dijual. Nah, obat yang baru sajalah yang layak dipatenkan, maka munculah istilah "Obat Paten".
Setelah obat paten itu ada di pasaran, dan dilirik oleh banyak pembuat obat lain. Karena obat masih dalam masa patennya, tidak boleh ada yang menjual obat yang serupa.. Jadi saat masa-masa paten masih berlaku, pembuat obat yang lain itu hanya bisa meneliti. Setelah masa paten habis dan jika penelitian oleh pembuat obat lain itu selesai, obat yang serupa obat paten itu bisa didaftarkan dan kemudian dipasarkan juga. Kalau obat yang serupa itu diberi merk, maka namanya adalah "Obat Generik Bermerk" atau bahasa Inggrisnya adalah "Branded Generic". Sedangkan jika obat yang serupa obat paten itu tidak diberi merk, maka obat tersebut adalah "Obat Generik Berlogo".  

Berlogo di sana artinya dengan logo, nah logonya seperti ini:


Logo tersebut memiliki filosofi, bukan sekedar untuk menjadi penanda saja
Bulat berarti kebulatan tekad untuk memanfaatkan obat generik.
Garis tebal ke tipis berarti menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Warna hijau berarti obat telah lulus dari segala pengujian.

Logo tersebut ada pada kemasan obat, mudah dikenali, ukurannya memang beragam disesuaikan dengan ukuran kemasan obatnya. Berikut contoh-contoh dari Obat Generik Berlogo yang ada di pasaran:
Contoh Obat Generik Berlogo, perhatikan logo Generiknya.


Jika masih ingat iklan obat generik di tahun 90-an (pokoknya waktu saya masih kecil, di kala obat generik  sedang gencar-gencarnya disosialisasikan) terdapat pertanyaan dari seorang pasien yang membeli obat bermerka pada pasien lain yang membeli obat generik, "Kok ga beli obat bermerk?" Lalu dijawab dengan kata-kata seperti ini:

"Emangnya makan merk-nya"
Lalu pasien yang awalnya membeli obat bermerk akhirnya memutuskan untuk mengganti obat yang dibelinya dengan obat generik dan juga menyebutkan "emangnya makan merk-nya". Jelas dari hal ini, iklan tersebut ingin menyampaikan bahwa obat generik yang dimaksud adalah obat yang tidak pakai merk dan harganya tidak mahal. Untuk memperjelas obat generik yang tidak bermerk itu digunakan istilah Obat Generik Berlogo (OGB).
Coba perhatikan desain kemasan pada foto di atas. Desain kemasannya minimalis dan terlihat serupa maupun obat-obat tersebut dibuat oleh perusahaan-perusahaan berbeda. Desain yang minimalis juga menurunkan biaya produksi kemasan, ini salah satu alasan juga mengapa harga OGB bisa murah.

Obat Generik Berlogo (OGB) adalah salah satu program pemerintah, jadi untuk harganya pun diatur oleh pemerintah (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 092/MenKes/SK/II/2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat Generik Tahun 2012), maka tidak heran jika harganya murah. Harga Eceran Tertinggi (HET) Obat Generik Berlogo dicantumkan di kemasannya, seperti pada contoh pada foto berikut ini:

Gambar atas foto dari strip Tablet Furosemid 40 mg dan gambar bawah adalah dari strip Kaplet Amoksisilin 500 mg
Pada foto HET di atas, saya cantumkan juga HET yang ditetapkan oleh pemerintah untuk produk tersebut, kalau mau dicek ulang, bisa dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 092/MenKes/SK/II/2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat Generik Tahun 2012. Pada KepMenKes tersebut juga diatur mengenai berapa harga yang dapat digunakan apotek untuk menjual Obat Generik Berlogo (OGB) itu. Tidak mungkin tidak ada keuntungan untuk apotek. Jadi dalam hal ini, pemerintah tidak hanya memikirkan keuntungan pada satu sisi saja.

Harganya yang murah ini sangat membantu orang-orang dengan penyakit yang memerlukan pengobatan setiap hari, seperti pasien darah tinggi, kencing manis, atau kolesterol atau penyakit lain. Jika menggunakan obat bermerk atau bahkan obat paten pasti akan mahal sekali biaya yang harus disediakan. Dengan adanya obat generik, biaya yang diperlukan jauh lebih sedikit.

Tapi obat generik tidak sebatas pada obat-obatan yang harus dikonsumsi pasien darah tinggi, kencing manis, kolesterol. Berdasarkan daftar penentuan HET obat generik, terdapat 498 jenis obat!! dan bentuknya pun bermacam-macam, bukan hanya tablet, tapi juga ada sirup, salep, krim, injeksi. Jumlah ini pasti akan bertambah seiring dengan kebutuhan masyarakat.

Mengapa Obat Generik Murah?
Pasti banyak orang bertanya-tanya mengapa obat generik itu harganya murah? Saya saja yang belajar dan bekerja di dunia kefarmasian (dunia obat-obatan) sempat tidak tahu mengapa. Baiklah, berikut adalah alasan-alasannya, saya mengetahui alasan-alasan ini dari kuliah dan dari dialog mengenai obat generik yang pernah ditayangkan di TVRI:
  1. Si pembuatnya tidak perlu penelitian dari 0, tapi tinggal modifikasi obat yang sudah ada. 
    Kalau dimisalkan seperti kue, kita misalkan saja rainbow cake, rainbow cake yang pertama kali keluar itu pasti mahal. Karena si pembuatnya itu bereksperimen dulu, coba warna ini, warna itu. Mungkin pada awalnya tidak terpikir untuk membuat kue berwarna pelangi ini, setelah dicoba-coba mungkin baru muncul ide "hmmmm, dibuat seperti pelangi saja!". Lalu untuk pelapisnya dicoba pakai krim ini, krim itu. Pasti tidak hanya satu kali percobaan saja kemudian rainbow cake yang sedap dimakan dan sedap dilihat itu jadi. Oleh karen itu, saat rainbow cake yang pertama dijual, pasti mahal! Harga yang mahal itu memperhitungkan ide yang dikeluarkan, bahan-bahan yang dipakai untuk eksperimen dulu, dan tentunya untuk mendapatkan keuntungan. Kemudian resep kue tersebut dipatenkan (ya mungkin untuk dunia pembuatan kue hal ini sangat jarang dilakukan hehehe), sehingga tidak boleh ada yang membuat rainbow cake selain si pembuatnya yang pertama. Tapi selama masa patennya belum berakhir ada orang lain yang mencoba untuk menirunya dan mendapatkan juga rainbow cake yang enak dan sedap dilihat, mungkin digunakan resep yang berbeda. Saat masa paten habis, orang tersebut menjual rainbow cake buatannya dengan harga yang lebih murah. Nah, sekarang resep rainbow cake ada di mana-mana, kalau kita mau membuatnya tidak perlu eksperimen banyak-banyak, mungkin sekali coba langsung berhasil. Juga untuk bahan-bahan kue bisa saja diubah menggunakan bahan yang lebih murah.

    Nah begitu jugalah yang terjadi pada dunia pembuatan obat. Pada pembuatan Obat Generik Berlogo (OGB), penelitian yang dikerjakan untuk membuat obat itu tidak sebanyak yang diperlukan oleh perusahaan yang pertama kali menelitinuya. Juga untuk bahan-bahan pembantu yang digunakan bisa digunakan yang lebih murah. Apa hal ini membuat Obat Generik Berlogo (OGB) menjadi tidak bermutu? Oh tentu tidak...Obat Generik Berlogo tidak begitu saja disetujui oleh BPOM. Untuk mendaftarkan Obat Generik Berlogo (OGB) ada serangkaian percobaan yang harus dilakukan untuk membuktikan bahwa obat yang terserap dalam aliran darah itu sama dengan obat yang sudah ada, yang sudah terbukti berkhasiat, atau seperti obat patennya.

  2. Obat generik tidak menggunakan promosi.
    Karena tidak dipromosikan, jadinya tidak ada biaya promosi yang dibebankan ke harga akhir produk. Salah satunya juga dengan desain kemasan yang minimalis tidak menambah beban biaya dalam rangka mempercantik kemasan agar dipilih oleh konsumen. Memang untuk obat-obatan ada aturan yang ketat dalam periklanannya. Tidak semua obat boleh diiklankan. Iklan tentang Obat Generik memang ada, tapi itu adalah salah satu langkah sosialisasi pemerintah mengenai Obat Generik, bukan langkah dari pembuat obat untuk meningkatkan penjualan obatnya.

  3. Harga Obat generik ditetapkan oleh pemerintah.
    Harga obat generik ditetapkan oleh pemerintah karena pemerintah ingin semua rakyat mendapat obat-obatan yang terjangkau. Janganlah rakyat yang membutuhkan obat tidak dapat berobat karena obat yang dijual itu mahal. Dengan dibuatnya obat generik dan harganya ditetapkan oleh pemerintah, pemerintah tahu bahwa di pasaran tersedia obat yang terjangkau oleh masyarakat.

Obat Murah? Apa berkhasiat?
Banyak orang yang pasti dua kali atau mungkin beberapa kali berpikir jika membeli barang, jika ada satu jenis barang dengan dua merk berbeda dan harga yang jauh berbeda, pasti akan terpikir: "Yang murah sepertinya cepat rusak". Ya pasti dalam hal Obat Generik Berlogo (OGB) ini juga terpikir,
Ini menyangkut masalah kesehatan, apa iya obat murah bisa dipercaya? Apa obat ini bermutu? Jangan-jangan ini obat cacat lalu dijual murah?
Tidak, yang pasti Obat Generik Berlogo (OGB) bukanlah obat yang tidak layak kemudian dijual murah. Dalam pembuatan Obat Generik Berlogo, persyaratan fasilitas pembuatannya itu sama ketatnya dengan pembuatan obat generik bermerk. Selain itu, untuk pendaftarannya ke BPOM tidaklah sederhana, ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi, ada pengujian yang harus dilakukan. Pada intinya Obat Generik Berlogo (OGB) ini adalah produk yang bermutu. BPOM meluluskan Obat Generik Berlogo (OGB) hingga bisa dipasarkan berarti BPOM juga menjamin obat ini.

Obat generik berlogo (OGB) itu menggunakan bahan berkhasiat yang sama jadi khasiatnya pun sama.  Seperti pada logonya yang berwarna hijau: LULUS dari segala pengujian.

Mungkin pernah mendengar juga ada orang yang tidak cocok dengan obat generik, ya hal ini bisa saja terjadi. Seperti disebutkan di atas, bahan-bahan yang digunakan bisa sangat berbeda dari obat paten tapi tentu dengan jenis bahan aktif yang sama, ada beberapa orang yang bisa saja tidak cocok dengan salah satu bahan yang digunakan pada obat itu. Contoh cerita, seperti pada kasus di bawah ini:

Berikut ceritanya:
Seorang wanita biasanya mengkonsumsi obat bermerk, saat dia menggunakan obat generik dia malah merasakan kesakitan. Hal tersebut hilang saat dia kembali menggunakan obat bermerk itu. Tapi hal ini kasus yang jarang, disebutkan bahwa 70% obat yang dikonsumsi di Amerika Serikat adalah obat generik dan penggunanya puas. Kemungkinan ada orang yang tidak cocok dengan bahan yang digunakan pada obat generik tersebut tapi ada juga orang yang cocok saja, diberikan juga contoh seorang anak yang menderita epilepsi yang selama 9 tahun pengobatannya seluruhnya menggunakan obat generik.
Obat generik ditekankan agar memiliki kadar bahan aktif yang sama dengan obat paten dan pembuat obat generik harus menjamin bahwa obat yang terserap dalam aliran darah sama dengan versi nongeneriknya. FDA juga menyatakan memang ada perbedaan antara obat generik dan non-generik, sebesar 3,5% dan ada terdapat 50 jenis obat yang perbedaannya mencapai hingga 10%. Tetapi, hal tersebut tetap diteliti dan akhirnya dapat ditetapkan bahwa perbedaan tersebut tidak memberikan dampak pada efek klinis dari obat generik tersebut.
Untuk wanita yang diceritakan di atas, akhirnya ia meminta dokter agar tidak memberikan resep obat generik tapi obat bermerk yang biasa dia gunakan dan dokter memberi catatan agar tidak dilakukan penggantian obat (menjadi obat generik) untuk pasien itu. Hal itu juga dapat dilakukan jika memang kita telah diketahui ternyata tidak cocok dengan obat generik.
Obat Generik Berlogo (OGB) tidak mempunyai merk (nama dagang). Oleh karena itu, yang digunakan adalah nama dari obat itu sendiri (lihat contoh foto pertama, ada Furosemide, furosemide adalah nama dari obat generik tersebut dan adalah nama obat itu sendiri). Maka di kertas resep yang dituliskan adalah nama obatnya bukan merk dan jika ingin membeli di apotek, sebutkan nama obatnya saja.

Saya seorang apoteker walau tidak bekerja di apotek, saya selalu menyarankan pada keluarga untuk menggunakan Obat Generik Berlogo (OGB) karena dengan khasiat yang sama dengan menggunakan OGB, biaya yang dikeluarkan sangatlah kecil. Baru-baru ini ibu saya menunjukkan catatan pembelian obatnya dan totalnya hanya sekitar Rp. 10.000,- untuk beberapa jenis obat karena yang dibelinya adalah Obat Generik Berlogo.

Berbeda dengan ibu saya, ayah saya pernah menggunakan obat bermerk untuk obat darah tingginya menggantikan obat darah tingginya yang merupakan obat paten. Akan tetapi, sayang sekali ayah saya tidak cocok dengan obat bermerk itu sehingga saat ini masih menggunakan obat paten. Padahal Obat Generik Berlogo (OGB) untuk obat itu sudah ada tapi ayah saya terlanjur kapok mengganti obatnya.

Saya sendiri juga mengkonsumsi obat generik, salah satunya seperti yang pernaah saya tulis di halaman ini.  Saat itu saya terkena sakit maag yang tidak biasanya. Obat yang saya gunakan adalah OGB dan saya sembuh. Jadi saya telah membuktikan sendiri kalau OGB itu berkhasiat.

Terkadang, dokter meresepkan obat bermerk untuk pasiennya. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No HK.02.02/MenKes/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, Pasal 4 ayat 1,
Dokter yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah wajib menulis resep obat generik bagi semua pasien sesuai indikasi medis.
Jadi, jika Anda berobat di rumah sakit pemerintah dan dokter meresepkan obat bukan generik untuk Anda, Anda berhak untuk meminta dokter mengubahnya menjadi obat generik.
Jika Anda lupa untuk meminta hal itu, saat Anda menebus obat tersebut di apotek, Anda bisa meminta apoteker apotek tersebut untuk mengganti obat tersebut menjadi obat generik, hal ini juga diatur dalam peraturan yang sama, pada Pasal 7,
Apoteker dapat mengganti obat merek dagang/obat paten dengan obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau pasien.
Dalam hal penggantian obat oleh apoteker diperlukan persetujuan dokter dan atau pasien. Jadi, jika misalnya apoteker yang mengusulkan untuk mengubah obat tersebut menjadi obat generik dengan persetujuan pasien, obat bisa diganti. Tapi memang lebih baik jika apoteker meminta persetujuan dari dokter terlebih dahulu. Dokter lebih baik mengetahui hal ini terutama untuk pasien yang harus melakukan kontrol lagi pada dokter. Karena Dokter harus memantau perkembangan pasien. Bila ternyata dokter memang sedang memantau pasien itu menggunakan obat bermerk yang diresepkannya maka jika apoteker bertanya terlebih dahulu pada dokter, penggantian obat tidak akan dilakukan.

Jika saat Anda meminta dokter untuk mengganti resep obat paten atau obat bermerk menjadi obat generik namun tidak diizinkan oleh dokter karena alasan belum tersediannya obat generik untuk obat tersebut atau Anda diberi resep obat generik namun saat di apotek ternyata dilaporkan bahwa untuk obat tersebut belum ada obat generiknya namun masih obat paten atau atau bermerk sehingga resep harus diganti menjadi obat paten atau obat bermerk, hal ini tidak menyalahi peraturan di atas, karena pada pasal 8 diatur seperti berikut:
Dokter di Rumah Sakit atau Puskesmas dan Unit Pelaksana Teknis lainnya dapat menyetujui pergantian resep obat generik dengan obat generik bermerek/bermerek dagang dalam hal obat generik tertentu belum tersedia.
Seperti yang disebutkan di atas saat ini sudah ada 498 jenis Obat Generik Berlogo yang HET nya diatur oleh pemerintah, namun munculnya obat-obat baru juga terus-menerus dan jika masa patennya belum habis, bisa dipastikan bahwa obat generik bermerk apalagi Obat Generik Berlogo (OGB) nya belum tersedia di pasaran. Oleh karena itu, mungkin saja hal di atas terjadi.

Dengan dicanangkannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang salah satu jaminannya adalah jaminan kesehatan tentu saja akan mencakup penjaminan untuk obat-obatan. Obat-obatan yang digunakan pastilah Obat Generik Berlogo karena merupakan obat yang layak, bermutu dan harganya yang murah sehingga dapat meringankan beban masyarakat untuk iuran SJSN ini. Selain itu, untuk menjamin ketersediaannya Obat Generik Berlogo untuk banyak penyakit, pembuatan Obat Generik Berlogo pasti akan bertambah pesat, jenis-jenis obat generik akan bertambah sehingga masyarakat tidak perlu khawatir jika obat yang dibutuhkannya adalah obat yang belum ada jenis generiknya. Dalam hal ini tentu saja perusahaan obat sangat besar peranannya.

Dalam pembuatan Obat Generik Berlogo ini tentu saja perusahaan pembuatnya tidak mendapatkan untung yang besar. Harga jualnya ditetapkan oleh pemerintah, sehingga perusahaanpun harus mentaati ketetapan itu. Perusahaan harus menemukan cara agar Obat Generik Berlogo (OGB) dapat diproduksi namun perusahaan juga dapat tetap beroperasi. Awalnya, OGB hanya dibuat oleh perusahaan BUMN, namun saat ini sudah banyak perusahaan bukan BUMN yang membuat OGB.

Perusahaan-perusahaan pembuat Obat Generik Berlogo (OGB) ini jelas sudah mengetahui bahwa tidak banyak keuntungan yang dapat diperoleh tetapi masih mau membuat Obat Generik Berlogo (OGB) dan tentunya dengan begitu, mendukung program pemerintah. Secara tidak lansung juga, perusahaan-perusahaan itu menunjukkan kepeduliannya pada masyarakat dan juga pada Indonesia, berbagi kebahagiaan dengan caranya sendiri, tidak hanya memikirkan kesejahteraan diri sendiri tetapi juga kesejahteraan bangsa, bertujuan untuk membagikan kesehatan bagi seluruh masyarakat.

Dapat saya katakan bahwa "Kesehatan bagi semua" tercermin pada Obat Generik Berlogo (OGB), semua kalangan masyarakat dapat menikmati fasilitas kesehatan berupa obat-obat yang terjamin mutunya, dan dengan harga yang terjangkau.

Mari kita kenali OGB, pakai OGB, dan mari sukseskan program pemerintah dengan menggunakan OGB. 


Artikel Terkait



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

1 comments:

Anonymous said... Reply

Hi Grace, apakah artikel mengenai OGB ini di ikut sertakan pada "Lomba Karya Tulis OGB (untuk Bloger)"? Kalau belum, yuk buruan register. untuk keterangan lebih lanjut kunjungi www.dexa-medica.com.

Post a Comment

Subscribe to: Post Comments (Atom)