Apa-Bagaimana-Siapa

17 Agustus 2013 yang lalu, di hari kemerdekaan kita ini, berkumpulah kami jemaat-jemaat di suatu tempat outdoor. Salah satu acara yang diadakan adalah sharing dari the inspirational chef, pemenang MasterChef Indonesia Season 2, Chef Desi.

Chef Desi membuka sharingnya dengan mengatakan ada 3 pertanyaan penting yang sering dia tanyakan pada dirinya, juga pada orang-orang. Tiga pertanyaan inilah juga inti dari sharingnya.

Saya mau jadi APA?
APA disitu maksudnya penekanan untuk kata "apa" bukan "Apoteker Penanggung jawab Apotek" ya :P

Kenapa kita perlu bertanya hal itu pada diri kita sendiri?
Karena, kita perlu mengetahui tujuan kita. Kalau kita sudah tahu mau jadi apa kita pasti akan berjuang untuk tujuan itu. 
Banyak orang yang bilang, "Ah, sudahlah mengalir saja seperti air." Chef Desi mengingatkan, 
"Ingat, air itu selalu mengalir ke tempat yang rendah dan tempat yang rendah itu kubangan, kotor, berpenyakit"
Ingat, kita itu punya potensi dan potensi kita itu tidak dibatasi apapun, bahkan umur sekalipun. Ada kok orang yang sukses saat dia memulai mengasah potensinya saat umurnya sudah tidak muda lagi.
Saat kita tidak tahu tujuan kita apa, kita mematikan potensi kita, Yohanes 10:10a akan digenapi, 
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan 
(Yohanes 10:10a)

Waktu kita dicuri, membunuh potensi kita, dan membinasakan kesempatan kita untuk berdampak dibinasakan.
Oiya, ingat juga.. tidak ada aspek yang tidak rohani dalam hidup kita.. semuanya rohani, tempat kerja kita adalah ladang pelayanan kita.

Baiklah, jadi untuk saya,
Dulu saya tidak punya cita-cita yang jelas, kuliah (yang biasanya sudah mendekati dengan "apa" itu) ya mengikuti orang tua saja. Semakin ke sini, semakin jelas sih passion saya apa, potensi apa, yang pasti masih sangat suka dengan mengajar (syarat dan kondisi berlaku), menganalisis (ya analisis zat kimia di obat, tanaman, dsb juga bisa analisis film seperti di post yang ini wkwkwk), dokumentasi (salah satunya nih nulis di blog ini), teratur-sistematis-perfeksionis (melankolis pisan lah). Jadi, kalau semua aspek itu diterapkan ke keseharian saya.. jadinya.. ya saya tahu saya mau jadi apa.

BAGAIMANA saya ingin diingat?
Chef Desi mengutarakan cara dia ingin diingat dengan membuat suatu permainan dengan bentuk konvensional, yaitu board game, bukan permainan elektronik yang sekarang sedang marak-maraknya. Dia mengungkapkan bahwa anak-anak zaman sekarang itu cenderung memiliki "lazy eyes", anak-anak sekarang mainnya di gadget sehingga matanya cenderung malas, tidak bisa fokus ke jarak-jarak jauh.
Jadi, dia ingin berkontribusi dengan membuat sebuah permainan konvensional dan karena dia seorang chef, temanya adalah memasak.

Jawaban saya:
Hmm, orang yang hebat wwkwkwkw. 
Belum tahu juga, masih abstrak.. yang pasti ga mau diinget sebagai orang yang jelek kelakuannya.

SIAPA pendukung saya?
Saat Chef Desi mengikuti kontes MasterChef itu, ternyata dia sering merasa ingin menyerah tapi akhirnya dia tetap bertahan dan akhirnya menang. Bagi dia, inilah pendukung-pendukungnya:
Firman Tuhan. Setiap masuk galeri, Chef Desi deg-degan dan yang bisa dia lakukan itu confessing Firman Tuhan, ingat janji-janji Tuhan. 
Keluarga
Keluarga rohani
Mentor rohani

Jawaban saya:
Firman Tuhan juga.
Keluarga juga
Keluarga rohani juga


Bagaimana?
Apa jawaban-jawabanmu?


Artikel Terkait



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 comments:

Post a Comment

Subscribe to: Post Comments (Atom)